Jumat, 27 Januari 2012

Practice makes perfect, the show must go on, hajar bleeeh!!!

Suasana Check Sound Lagu Sigulepong
27 Januari

Makin berkibar aja nih Mia Patria di bulan Januari. Setelah unjuk suara dan gerak di Bekasi, kali ini pasukan MPC diundang Bapak Richard selaku direktur Penerbit Penebar Swadaya mengisi acara perayaan ultah ke-30 penerbit tersebut di Hotel Acacia Salemba pukul 19.30-22.00. 

Siang hari sekitar pukul 15.00 sebelum acara mulai, anggota MPC, terutama yang gadis-gadis, berkumpul dulu di base camp Sari Bundo Rawamangun untuk berdandan. (yang angkut-angkut alat musik tidak ikutan dandan lho-red). Penampilan sudah oke (para gadis) dan alat sudah rapih masuk truk, semuanya latihan sebentar lagu Satu Nusa Satu Bangsa. Pukul 16.30 berangkatlah pasukan MPC membelah kemacetan Jalan Pemuda menuju Jalan Kramat tempat Hotel Acacia berada. 

Dandan part two atau Makan part two? Hihihi...
Setting alat musik dan dandan part two segera dilakukan di kamar yang disediakan penyelenggara. Check sound dilakukan setelah penataan alat musik beres dengan menyanyikan Sigulempong dan Medley Floresiana tanpa koreografi.

Pukul 19.30 tiba, show time ladies and gentlemen! Dengan gagah anggota MPC menuju ke panggung memulai keriaan malam itu dengan menyanyikan Satu Nusa Satu Bangsa (ini syahdu, bukan ria ya harusnya?-red). Ada miskomunikasi di sini. Seharusnya pertama kali dinyanyikan unisono baru pengulangan empat suara. Saking semangatnya, langsung saja lagu dihantam empat suara. 

Next, Medley Sunda tapi …… ups! Ke mana Malvin si akang pelantun lagu Sunda? Pemirsa, ternyata Malvin menjadi korban kehebohan demo buruh yang memblokir Tol Cikampek sehingga dia mesti zig-zag mencari jalan alternatif untuk mencapai hotel. Sekalipun terlambat, salut buat Malvin yang telah bersusah payah menerjang segala hambatan dan rintangan.

Ricky Yang Gagah Perkasa Teler Juga
Akhirnya solo intro Medley Sunda diambil alih Ricky yang walaupun sedang masuk angin berusaha mencapai nada tinggi tenor. By the way busway, abis penampilan sesi satu Ricky langsung minta dipijat Om Wakijo bahkan sampai muntah-muntah. Untung cuma intro ya Rick, coba kalau solo Diru Nina. Bisa minta pernapasan buatan tuh…. Nah ini tugasnya Mbak Prima, ya.

Kembali ke penampilan MPC malam itu. Setelah Medley Sunda penampilan selanjutnya Sigulepong. Malvin yang baru datang dengan sukses menyelinap ke barisan, tanpa disertai kepulan asap, dan berikutnya Medley Floresiana yang dipimpin Om John dan Jenny. Ketiga lagu di sesi pertama dieksekusi dengan anggun dan indah sehingga mengundang tepuk tangan penonton. 

Setelah sesi satu acara diselingi penampilan bintang tamu lain dan awak MPC bisa istirahat mempersiapkan diri untuk gong penampilan mereka: Diru Nina.

Om John dan Kedua Selirnya
Pukul 21.30 teng anggota MPC bersiap masuk panggung dengan formasi Diru Nina. Solis dibawakan oleh orang Flores dan Batak namun cucok sekali dalam kostum papua dan ikat kepala cendrawasihnya, Asten dan Rachel. Maaf teman-teman, sepertinya Diru Nina yang diharapkan sebagai gong pemuncak tidak dilantunkan dengan sempurna. Masih ada beberapa kedodoran di sana sini. Ada sela waktu sebelum teman-teman sadar bait yang mesti dinyanyikan. 


Kedodoran rupanya merambah sampai lagu Congratulations yang memang baru dipelajari H-1. Bukan hanya penyanyinya, si pembawa acarapun error kembali mempersilahkan MPC menyayikan lagu yang baru saja dinyanyikan ini. Sempat bingung sih, tapi apalah daya kata-kata tidak bisa ditarik. Pengulangan lagu ini dibawakan lebih santai dengan tepuk tangan, lalu turun panggung untuk bersalaman dengan penonton. 

Penampilan malam ini memang tidak sempurna, tapi tak apalah, orang pintar yang suka minum obat masuk angin bilang, practice makes perfect, the show must go on, hajar bleeeh!!! Penampilan-penampilan berikutnya harus lebih baik! (/and, nat)

Parade Foto Lainnya:









Kemana Cowok Madura-nya? 


Senin, 23 Januari 2012

REQUIEM ÆTERNAM, DONA EIS DOMINE

Senin, 23 Januari

“Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan kuberikan untuk hidup dunia”
(Yoh, 6:51) 

Telah berpulang ke pangkuan Bapa di surga pada Senin, 23 Januari 2012 pukul 19.15 di Rumah Sakit Puri Cinere Ibu Maria Fortunata Apsari Budi Setiorini, akrab dipanggil Ririen, istri tercinta Bapak Linus Putut Pudyantoro, pimpinan Mia Patria, juga ibunda terkasih bagi Dinus dan Stanis. 

Diadakan Misa Arwah pada malam harinya pukul 23.50 - 1.30 dini hari yang dihadiri oleh anggota keluarga, handai taulan, anggota Mia Patria Choir, dan tetangga lingkungan sekitar. 

Misa Requiem diadakan pada hari Selasa pukul 11.00 di Gereja Aloysius Gonzaga, Cijantung, dengan konselebran utama Bapak Uskup Ignasius Suharyo. 

Ibu Ririn telah meninggalkan kenangan tersendiri di hati umat sehingga gereja yang berkapasitas kurang lebih 800 orang tidak mampu mengakomodir umat yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Lahan parkir yang terbatas tidak menghalangi umat walau mereka harus memarkir mobil agak jauh dari gereja dan berjalan kaki sejauh 300 meter. 

Anggota Mia Patria tidak lupa turut memberikan pernghormatan dengan menyumbangkan suara dan bakat musiknya dalam misa tersebut. Almarhumah dimakamkan di Pemakaman Pondok Rangon. Acara pemakaman segera dilaksanakan setelah misa usai.

Selamat jalan Ibu Ririn tercinta. Semoga di rumah Tuhan engkau turut bernyanyi bersama kami anak-anakmu. (/and)

Minggu, 22 Januari 2012

Terima Kasih Bekasi


Sabtu-Minggu, 21 - 22 Januari

Pengalaman malam pertama memang spesial dan tak terlupakan. Layaknya sepasang kekasih memadu cinta, malam itu tim Eropa 2012 memadukan berbagai macam karakter, kebiasaan, dan keunikan setiap pribadinya dalam suatu kebersamaan malam untuk pertama kalinya.
Makan Malam Bersama di Kursi Mungil

Terima kasih untuk teman-teman dari Bekasi, khususnya Bapak Wakijo, yang membantu menyediakan tempat kami bermalam di TK Strada. Walaupun hanya bermodalkan bantal kiriman dari basecamp MPC, kami bisa terlelap di dalam (dan luar) ruangan kelas yang beralaskan karpet itu. Meskipun ada pula yang memilih untuk berjaga malam, nonton bola di pos satpam, dan saling berbagi kisah gaib sampai pagi.

Pukul lima dini hari kami sudah berdandan cantik dan berkostum kinclong untuk pemanasan. Yap, misa pertama yang harus dilayani di gereja Santo Arnoldus Janssen minggu pagi itu mulai pukul enam. 

Misa dibuka dengan nuansa Kalimantan lewat lagu "Lihatlah Kemah Allah" yang menampilkan pula Sinta dan Sisi sebagai penari-penari dayak. Ordinarium tetap mengandalkan gaya Melayu, dan lagu antar bacaan serta Alleluya memasuki ranah Jawa (dengan waktu berlatih yang dapat dihitung kurang dari jari-jari dalam satu tangan). Lagu persembahan bertahan pada "Sesaji Insani" dengan Bias kembali (dan tampaknya permanen) didaulat sebagai penari utama, menyusul di belakangnya Rachel dan Talia dengan bakul persembahan masing-masing sayur dan buah-buahan.

Walaupun (katanya) menduduki posisi terbanyak keempat di Paroki Arnoldus, kami tetap membawakan pula lagu Mandarin "Cua Ting Wo Cheng Siou" untuk mengiringi komuni. Sementara itu sebagai lagu penutup, kami beralih ke daerah Batak lewat "Syukur Kami", menampilkan Ricky dan Mega sebagai penari penjemput pastur turun altar. Urut-urutan yang sama kami persembahkan kembali untuk misa selanjutnya pukul 08.30.

Seusai misa, kami bergegas menuju pos masing-masing untuk berjualan CD. Lewat tugas ini pula, dibentuk kelompok piket baru, Delta. Terima kasih pada umat Bekasi yang telah menyukseskan kegiatan penggalangan dana kami. Lebih dari 400 keping CD diminati umat, khususnya album Misa Budaya. 

Show Time!

Salut juga untuk teman-teman dari Bekasi yang rela berlelah-lelah bertugas menjual CD pada misa sore/malam Sabtu dan Minggunya. Terima kasih pula untuk Mama Dian yang sudah mengurusi perut kami. Juga kerabat-kerabat di Bekasi yang turut membantu perbekalan pagi hari. 

Lelah dan ngantuk tidak dapat disangkal. Namun bila semua dihadapi bersama dengan tawa, terbukti segala halang rintang tanggal terjungkal. (/nat)

Kamis, 05 Januari 2012

Yang Pertama

Bersama Mgr. Ignasius Suharyo, Uskup Agung Jakarta
courtesy: Agata Melisa
Kamis, 5 Januari 2012

Mengawali tahun dengan melayani misa di Gereja Katedral bersama Bapak Uskup Agung Jakarta merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Terima kasih untuk Majalah Hidup yang telah mengundang kami berpartisipasi dalam misa perayaan ulang tahunnya ke-66.

Hari ini kami tampil untuk pertama kalinya di tahun 2012, dalam rangka persiapan perjalanan budaya ke Eropa bulan April - Juni nanti. Walaupun hujan badai melanda ibukota hari itu, kami tetap melayani dengan senyum (lihat saja aksi kami di foto).

Perarakan masuk misa diiringi lagu bernuansa Jawa "Sembah Bekti", dengan para penari: Bapak Wakijo dan putri-putri ayu Etty dan Uchie. Lagu-lagu ordinarium masih dari ranah Minang. Pada lagu persembahan, kami menuju Bali dengan mengumandangkan "Sesaji Insani". Bias dengan lenggokan dan lirikan tajam khas penari Bali memimpin iringan persembahan sayur dan buah yang dibawa Mega dan Nana, serta tumpeng raksasa yang dibawa oleh tim Majalah Hidup menyusul di belakang. Sebagai lagu persembahan, kami keroncong-an dengan "Bersemayamlah di Dalam Hati". Sentuhan Batak untuk mengakhiri misa tertuang dalam lagu "Syukur Kami", yang juga ditarikan kali ini oleh Ika dan Pandit. (/nat)