Rabu, 02 Mei 2012

Promosi Budaya Lewat Gereja dan Negara

Rabu, 2 Mei

"Paus itu pemimpin dari pemimpin-pemimpin negara," ujar Bobby saat tiga puluh dua Warga Negara Indonesia berseragam Bali memenuhi halaman Basilika St.Peter. Kuatnya pengaruh Paus juga diakui oleh Pak Boni yang sempat menyatakan pentingnya membina hubungan dengan Vatikan karena kedekatan historial sejak jaman Soekarno.

Pagi itu terik matahari menyengat. Penuh sesak ribuan manusia dari seluruh penjuru bumi di bangunan utama negara terkecil di dunia itu. Rasa tidak percaya bisa beraudiensi dengan Bapak Paus dialami setiap anggota. Bersama dua grup musik lainnya yang berasal dari Polandia, Mia Patria ditempatkan di baris depan, terpisah dari masyarakat umum lainnya.

Sebelum iring-iringan masuk Bapak Paus, ketiga grup musik ini tampil bergantian. Kami mempersembahkan Medley Floresiana dan Medley Pasundan yang disambut meriah oleh kumpulan. Dengan mobil atap terbuka berwarna putih, Paus Benediktus masuk arena dengan kawalan berseragam hitam yang sambil mendorong kendaraan pemimpin umat Katolik seluruh dunia itu.

Bacaan kitab suci dikumandangkan bergantian dalam delapan bahasa, mewakili kelompok yang hadir pada audiensi Rabu itu. Indonesia dikategorikan pada kelompok berbahasa Inggris. Ketika nama Mia Patria dari Indonesia disebut, dengan sigap kami berdiri menyanyikan lagu baru bernuansa Flores "Kami Bersyukur" secara accapela. Audiensi berakhir sampai kira-kira pertengahan hari, kami pun kembali mengumandangkan Sigulempong sembari menghantar Bapak Paus keluar arena.

Apresiasi tinggi dari hadirin tak henti-hentinya disampaikan pada kami. Bapak Paus pun sangat menyukai penampilan kami, seperti yang sempat diungkapkannya dalam forum super besar itu. Inilah karya kami, membawa budaya bangsa ke mata dunia.

Indonesia di Pelataran Basilika
Tidak hanya masyarakat umum di Basilika, para Corps Diplomatic dari berbagai bangsa juga berkesempatan menikmati ragamnya budaya Indonesia lewat penampilan Mia Patria di KBRI sore harinya. Walaupun keletihan merasuk raga setiap anggota, senyum dan keramahan khas Indonesia menjadi andalan kami dalam pementasan "The Culture of Harmony". 

Penampilan Bhineka Perdana di KBRI
Rangkaian acara dibuka oleh Duta Besar Indonesia untuk Vatikan, Bapak Budiarman Bahar, langsung dilanjutkan penampilan lagu dan koreografi Sigulempong, Keroncong Kemayoran, Medley Kalimantan, Medley Pasundan, Sio Mama, dan Medley Floresiana. Waktu istirahat yang tidak banyak, hanya sekitar tujuh menit, diisi oleh kata pengantar Bapak Linus Putut Pudyantoro, sementara kami merakit sebuah kapal pecah di belakang panggung (baca: ganti baju express).

Paruh dua diisi oleh tari-tarian. Dimulai dengan Tat Wam Asih Bali, Rantak Padang, Saman Aceh, dan Diru Nina Papua. Penampilan Mia Patria ditutup oleh pertunjukan angklung Radetzky March.

Secara keseluruhan penampilan perdana kami di Eropa ini tidaklah buruk. Ada beberapa komentar yang menyatakan penampilan kali ini lebih variatif daripada tur 2010. Bapak Dubes juga merasa puas dengan apa yang sudah dipersembahkan atas nama Indoneia untuk dunia ini. Beberapa audiens pun sempat minta diajari bermain angklung atau menari. Bapak Putut sendiri memberikan apresiasi untuk penampilan Tari Rantak yang memang sampai pada siangnya dianggap kurang matang. Semoga ini bisa menjadi motivasi bagi rantakers, dan juga setiap anggota untuk selalu mempersembahkan yang terbaik dalam setiap kesempatan walaupun kondisi fisik terkadang kurang prima.
Duta Budaya Indonesia di KBRI Vatikan

Mia Patria mungkin bukan sebuah komunitas seni professional. Namun kebersamaan dan niat tulus kami mengharumkan nama bangsa membawa kami pada kesuksesan hari itu. Baik di depan ribuan jemaat di Basilika St.Peter, maupun puluhan tamu KBRI yang berasal dari berbagai bangsa. (/nat)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar