Selasa, 1 Mei
Jam 8 pagi
dengan menu nasi goreng hangat yang disediakan pihak KBRI kami mengisi perut. Nyam nyam nyam. Selain sarapan, aktifitas pagi itu juga diisi kegiatan konveksi, menjahit emblem pada jaket dan tas. Kegiatan ini tidak memandang gender, laki-laki pun turut melakukannya dengan suka cita.
| Kamar Tidur pun Berubah jadi Konveksi |
Setelah penuh dengan santapan jasmani, kami semua bergegas masuk ke bis
yang yang akan membawa kami ke Vatikan.
Berangkat jam 9 WR (waktu Roma) dan setelah jalan 30 menit tahu-tahu
berhenti. What happened?
Ternyata bisnya mogok karena olinya abis. Sopir bis
harus menghubungi pihak bengkel dan kami harus menunggu montir kasih mimik oli
ke bis kayak dedek mimik susu. Satu jam menunggu dan kami pun on the way ke
Vatikan.
Selama di perjalanan mata dimanjakan pemandangan gedung-gedung tua
terutama reruntuhan jaman kejayaan bangsa Romawi leluhur bangsa Italia. Mulai
dari reruntuhan istana, pemandian, akuaduk, gerbang, dll. Hmm itu yang mesti
ditiru bangsa Indonesia: menjaga dan melestarikan warisan nenek moyang sebelum
diklaim bangsa lain.
Obyek pertama adalah Koloseum (It. Coloseo). Bekas stadion
untuk pertarungan hidup-mati para gladiator ini masih terlihat megah sekalipun
sudah berusia lebih 2000 tahun. Kami segera berfoto-foto ria dan membuat foto bersama. Sudah asik foto rame-rame tiba-tiba Kak Wiwin baru memunculkan diri. Tampaknya dia habis sibuk menjawab panggilan alam. Kami pun mengulang kembali foto bersama.
Tiba waktunya makan siang. Kami
dibawa oleh Claudio ke Burger King dekat kompleks Vatikan. Surprised! Claudio
memesankan hamburger dengan porsi jumbo. Baru kali ini melihat anggota MP
bersusah payah untuk menghabiskan makanan, bukan untuk memperoleh makanan.
Dari
Burger King berjalan di bawah rintik-rintik hujan menuju pintu gerbang Vatikan
melewati deretan toko souvenir. Akhirnya sampailah kami ke pusat peziarahan
umat Katholik selain Yerusalem. Barisan panjang manusia mengular di lapangan
luas bernama Piazza di San Pietro.
| Menembus Hujan dan Dingin, Foto-foto pun Harus Tetap Berjalan |
Akhirnya kami
serombongan masuk ke 'rumah Tuhan' di Roma. Betapa besar jerih payah arsitek
dan seniman mengorbankan jiwa dan raga untuk mewujudkan rumah Tuhan. Bukan,
bukan kemegahan bangunan ini yang membuat takjub, tapi betapa manusia bersedia
berkorban mempersembahkan yang terbaik yang bisa diberikan kepada Tuhan dalam
wujud karya seni bercita rasa tinggi.
Kami mendapat kesempatan
berdoa di kapel-kapel yang tersedia di dalam basilika, termasuk Sanctissima yang kabarnya banyak doa terkabulkan jika dipanjatkan di sana.
Jam 4 usailah sudah acara jalan-jalan. Karena bis mogok tadi, kunjungan ke
Fontana di Trevi harus dibatalkan. Sayang sekali tapi semoga kami bisa kembali
lagi di masa mendatang (amin amin). (/and)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar