Sabtu, 05 Mei 2012

Say Yes to Oies

Sabtu, 5 Mei

Oies. Itulah tujuan kami hari ini. Rintik hujan turun mewarnai pagi nan kelabu di wisma Bolzano. Udara sejuk pagi terasa cocok berteman dengan sarapan pagi mie goreng hangat racikan tim dapur.

Para kaum adam diutus untuk pergi terlebih dahulu ke Wisma Don Bosco, tempat pertunjukan kemarin malam, untuk mengemasi peralatan untuk dibawa ke Oies. Sekitar pukul setengah sepuluh pagi barulah kaum hawa turun bukit menuju halte bus terdekat, menunggu jemputan bus yang sudah berisi para lelaki dan peralatan. Oies, here we come! 

Museum Ladin dengan Teknologi Informasi Lewat Earphone
Bus yang dikendarai oleh sopir bernama Daniele bertolak langsung ke arah Timur Laut kota Bolzano. Kami menengok sejarah kaum asli Tirol Selatan (Sudtirol) di Museum Ladin. Walaupun berada di atas bukit, jauh dari modernisasi perkotaan, kami cukup terkesima dengan teknologi yang dipertunjukkan museum ini.

Selesai mencukupi wawasan dengan pengetahuan baru, kami mencukupi rongga perut kami yang mulai kosong di kafetaria museum. Menu makan siang kering kentang, perkedel, dan sayur orek sudah ditempatkan di omprengan masing-masing, yang sudah dipersiapkan dari pagi hari. Kami pun sempat menampilkan dua lagu setelah makan siang untuk para pengelola museum.

Rumah Santo Freinademetz
Tujuan kedua kami adalah rumah Santo Giuseppe Freinademetz yang terletak tak jauh dari museum. Kawasan tempat tinggal santo yang pernah berkarya di Cina ini diisi pula oleh beberapa bangunan, seperti gedung gereja, kapel, dan taman doa yang asri oleh warna-warni bunga.

Kami sempat melambungkan sebuah lagu di dalam gereja, juga di dalam kapel. Sungguh pemandangan yang menajubkan karena kami juga dapat melihat pegungungan Alpen, pedesaan di perbukitan, serta hamparan bukit hijau membentang serasa ingin berdendang seperti Maria pada film The Sound of Music. Wilayah ini memang dahulu merupakan bagian Austria sebelum diserahkan ke Italia usai Perang Dunia Kedua.
Pater Tus, Daniele, Pa Putut, Pater Herman, Pa Ludwig di Oies

Malam hari tiba walaupun sang mentari belum juga meninggalkan tahtanya. Misa inkulturasi pertama kami laksanakan di Gereja St. Leonhard In Gadertal. Kami yang belum genap seminggu berada di Eropa masih mengalami weather-leg. Udara dingin bercampur angin seolah-olah menjadi tantangan awal kami.

Misa dibawakan dalam tiga bahasa: Jerman, Italia, dan Ladin, sedangkan saat doa umat terucap pula doa bahasa Indonesia oleh saudari Ika (aka Tasya). Penampilan setelah misa meliputi Medley Pasundan, Medley Flores, Diru Nina, dan seperti biasa ditutup oleh Radetzky March. Walaupun suara angklung kurang melengkung, serta beberapa alat musik lain kurang nge-tune, penampilan kami tetap mendapat sambutan meriah oleh umat. (/nat)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar