Minggu, 06 Mei 2012

Dari Ulrich ke Sarnthein


Minggu, 6 Mei

St. Ulrich dan Kostumnya
Jam di bis menunjukkan pukul 08:26 dengan suhu setempat 13 derajat celcius di St.Ulrich, salah satu tempat bermain ski yang terkenal di Sudtirol. Pagi itu ada pula iringan pemain musik tradisional lengkap dengan kostumnya, dengan barisan tentara di belakangnya berjalan mengelilingi kota. Acara itu diadakan untuk memperingati hari fire brigade, kata salah seorang pemain terompet.


Gereja Paroki Epifania yang kami kunjungi terlihat sangat menarik interiornya, dengan kubah yang menjulang tinggi dan gambar rohani yang indah. Dengan udara yang dingin dan sempat gerimis, kami bernyanyi tanpa alas kaki. Rasanya menggigil pada awalnya, tapi ketika umat berdatangan, kami berdoa dan berserah untuk tugas pelayanan pada hari minggu ini.


Misa dimulai pukul 10.30, singkat saja hanya sekitar satu jam. Setelah misa selesai, sempat ditampilkan di gereja, lagu Medley Sunda. Lalu setelah itu pementasan dilanjutkan di pelataran gereja, dengan permainan angklung “Radetzky March”, lagu Medley Pasundan, Medley Flores, juga tari Saman.


Kemudian kami makan siang jam 2, di salah satu restoran dekat gereja, disponsori oleh Dewan Paroki setempat. Hari ini berlanjut ke salah satu paroki di Sarnthein, untuk tugas misa ekaristi jam 7 malam. Jam 15.45 kami sudah sampai.


Selesai misa, kami dijamu makan malam oleh romo dan dewan paroki setempat. Dalam jamuan tersebut, seperti biasa kami menyanyikan lagu “kami bersyukur” dan “today” sebagai ungkapan terima kasih dan rasa syukur kami. Romo Tus juga menyampaikan kepada Romo paroki setempat bahwa beberapa tahun berikutnya MP perlu diundang kembali untuk melanjutkan misi budaya. (Asikkk)


Jam 22.30 kami pulang melewati 21 terowongan yang sama seperti keberangkatan paginya. Terowongan itu terletak dibawah kaki pegunungan, dengan kondisi jalannya yang tidak cukup luas untuk dua mobil. Pater Tus mengajak kami untuk menghitung jumlah terowongan tersebut, dan di akhir terowongan nanti mengajak pak Putut untuk berdoa syukur untuk hari ini. (/anb)

Sabtu, 05 Mei 2012

Say Yes to Oies

Sabtu, 5 Mei

Oies. Itulah tujuan kami hari ini. Rintik hujan turun mewarnai pagi nan kelabu di wisma Bolzano. Udara sejuk pagi terasa cocok berteman dengan sarapan pagi mie goreng hangat racikan tim dapur.

Para kaum adam diutus untuk pergi terlebih dahulu ke Wisma Don Bosco, tempat pertunjukan kemarin malam, untuk mengemasi peralatan untuk dibawa ke Oies. Sekitar pukul setengah sepuluh pagi barulah kaum hawa turun bukit menuju halte bus terdekat, menunggu jemputan bus yang sudah berisi para lelaki dan peralatan. Oies, here we come! 

Museum Ladin dengan Teknologi Informasi Lewat Earphone
Bus yang dikendarai oleh sopir bernama Daniele bertolak langsung ke arah Timur Laut kota Bolzano. Kami menengok sejarah kaum asli Tirol Selatan (Sudtirol) di Museum Ladin. Walaupun berada di atas bukit, jauh dari modernisasi perkotaan, kami cukup terkesima dengan teknologi yang dipertunjukkan museum ini.

Selesai mencukupi wawasan dengan pengetahuan baru, kami mencukupi rongga perut kami yang mulai kosong di kafetaria museum. Menu makan siang kering kentang, perkedel, dan sayur orek sudah ditempatkan di omprengan masing-masing, yang sudah dipersiapkan dari pagi hari. Kami pun sempat menampilkan dua lagu setelah makan siang untuk para pengelola museum.

Rumah Santo Freinademetz
Tujuan kedua kami adalah rumah Santo Giuseppe Freinademetz yang terletak tak jauh dari museum. Kawasan tempat tinggal santo yang pernah berkarya di Cina ini diisi pula oleh beberapa bangunan, seperti gedung gereja, kapel, dan taman doa yang asri oleh warna-warni bunga.

Kami sempat melambungkan sebuah lagu di dalam gereja, juga di dalam kapel. Sungguh pemandangan yang menajubkan karena kami juga dapat melihat pegungungan Alpen, pedesaan di perbukitan, serta hamparan bukit hijau membentang serasa ingin berdendang seperti Maria pada film The Sound of Music. Wilayah ini memang dahulu merupakan bagian Austria sebelum diserahkan ke Italia usai Perang Dunia Kedua.
Pater Tus, Daniele, Pa Putut, Pater Herman, Pa Ludwig di Oies

Malam hari tiba walaupun sang mentari belum juga meninggalkan tahtanya. Misa inkulturasi pertama kami laksanakan di Gereja St. Leonhard In Gadertal. Kami yang belum genap seminggu berada di Eropa masih mengalami weather-leg. Udara dingin bercampur angin seolah-olah menjadi tantangan awal kami.

Misa dibawakan dalam tiga bahasa: Jerman, Italia, dan Ladin, sedangkan saat doa umat terucap pula doa bahasa Indonesia oleh saudari Ika (aka Tasya). Penampilan setelah misa meliputi Medley Pasundan, Medley Flores, Diru Nina, dan seperti biasa ditutup oleh Radetzky March. Walaupun suara angklung kurang melengkung, serta beberapa alat musik lain kurang nge-tune, penampilan kami tetap mendapat sambutan meriah oleh umat. (/nat)


Kamis, 03 Mei 2012

Sampai Jumpa Roma, Selamat Datang Bolzano


Kamis,  3 Mei

Singkat waktu kami berkarya di ibukota Italia. Hari ini kami harus berangkat dengan bus berkapasitas 57 orang menuju Bolzano yang kabarnya membutuhkan sembilan jam perjalanan.
Perpisahan dengan KBRI Vatikan di Roma

Untuk mengisi waktu, bergantian kami memberikan kesan-kesan tentang pengalaman kami bersama Mia Patria. Rasa syukur, haru, dan tawa berbaur siang itu. Di sini lah rasa cinta antara Mega dan Ine mulai tumbuh, juga Andre dengan “dasi”nya. (Dasi dasi apa yang bikin sehat dan gembira? Silahkan dijawab sendiri) 

Ada dua perhentian, juga dua sopir, sepanjang perjalanan kami. Perhentian pertama selama dua puluh menit, kami sempat tertipu dengan tulisan “gratis wifi”. Banyak yang mulai bersorak gembira, namun ternyata kami harus menggunakan nomor Italia untuk terhubung. 

Sejenak kami berhenti lagi untuk makan siang dengan perbekalan yang telah disiapkan oleh mbak Ika dan mbak Dita di sebuah pom bensin. Makanan dari jamuan malam sebelumnya masih cukup enak untuk mengenyangkan perut kami, berupa ikan teri medan, semur ayam kuning, sayur salad dan kerupuk, ditemani pisang dan beberapa botol air mineral yang biasa disiapkan oleh KBRI. Ahh.. betapa sungguh kami merasakan dikasihi oleh Negara Indonesia, tanah air kami, melalui kedutaan besarnya di Negara yang kami singgahi.

Makin terasa perjalanan semakin mendekatkan kami satu sama lain. Terutama dengan makan satu kotak untuk dua atau tiga orang. Pak Putut dengan murah hati pun masih menawarkan makanan berupa Panini (roti isi potongan daging ham) dan pizza yang dibelikan oleh tim konsumsi bagi mereka yang masih belum kenyang. Kemurahan Tuhan senantiasa kami rasakan dalam perjalanan panjang di darat ini, dimana kami selalu tercukupi kebutuhan pangan dan khawatir kelaparan. “Days ahead will always be, result of what we’re doing now….”
Perhentian Pertama, Yeehaaaa....

Jam empat sore kami berangkat lagi menuju Bolzano. Selama perjalanan, untuk mengusir rasa bosan, kami bernyanyi “You and I”, “Today”, “Kami Bersyukur”, dengan iringan gitar dari Bobby. 

Kemudian Pak Putut membagi grup kami ke dalam 10 kamar, dengan variasi satu kamar untuk lima orang dan tiga orang, sesuai kapasitas kamar yang tersedia disana.

Sore itu kami pun tiba  di biara SVD, tempat kami akan tinggal, disambut oleh pater Tus dari Flores dan pater Dialfonso dari Angola. Setelah menaruh barang di kamar kami masing-masing, kami makan malam bersama di ruang makan yang terang dan bersih. Menu saat itu berupa bistik daging, dengan minuman jeruk dan buah peach. Setelahnya disiapkan jadwal piket untuk menata meja dan cuci piring untuk makan-makan selanjutnya di Jugendzentrum (wisma SVD). 

Jam 10 malam, usai kami istirahat sejenak, kami berkumpul lagi di ruang makan untuk pengenalan tiap anggota MP dengan pater Tus. Juga dengan pater Herman dan Bapak Ludwig. Mereka adalah orang-orang yang berbaik hati memberikan kami kesempatan berkarya di kota bilingual (bahasa Jerman dan Italia) itu. (/anb)

Rabu, 02 Mei 2012

Promosi Budaya Lewat Gereja dan Negara

Rabu, 2 Mei

"Paus itu pemimpin dari pemimpin-pemimpin negara," ujar Bobby saat tiga puluh dua Warga Negara Indonesia berseragam Bali memenuhi halaman Basilika St.Peter. Kuatnya pengaruh Paus juga diakui oleh Pak Boni yang sempat menyatakan pentingnya membina hubungan dengan Vatikan karena kedekatan historial sejak jaman Soekarno.

Pagi itu terik matahari menyengat. Penuh sesak ribuan manusia dari seluruh penjuru bumi di bangunan utama negara terkecil di dunia itu. Rasa tidak percaya bisa beraudiensi dengan Bapak Paus dialami setiap anggota. Bersama dua grup musik lainnya yang berasal dari Polandia, Mia Patria ditempatkan di baris depan, terpisah dari masyarakat umum lainnya.

Sebelum iring-iringan masuk Bapak Paus, ketiga grup musik ini tampil bergantian. Kami mempersembahkan Medley Floresiana dan Medley Pasundan yang disambut meriah oleh kumpulan. Dengan mobil atap terbuka berwarna putih, Paus Benediktus masuk arena dengan kawalan berseragam hitam yang sambil mendorong kendaraan pemimpin umat Katolik seluruh dunia itu.

Bacaan kitab suci dikumandangkan bergantian dalam delapan bahasa, mewakili kelompok yang hadir pada audiensi Rabu itu. Indonesia dikategorikan pada kelompok berbahasa Inggris. Ketika nama Mia Patria dari Indonesia disebut, dengan sigap kami berdiri menyanyikan lagu baru bernuansa Flores "Kami Bersyukur" secara accapela. Audiensi berakhir sampai kira-kira pertengahan hari, kami pun kembali mengumandangkan Sigulempong sembari menghantar Bapak Paus keluar arena.

Apresiasi tinggi dari hadirin tak henti-hentinya disampaikan pada kami. Bapak Paus pun sangat menyukai penampilan kami, seperti yang sempat diungkapkannya dalam forum super besar itu. Inilah karya kami, membawa budaya bangsa ke mata dunia.

Indonesia di Pelataran Basilika
Tidak hanya masyarakat umum di Basilika, para Corps Diplomatic dari berbagai bangsa juga berkesempatan menikmati ragamnya budaya Indonesia lewat penampilan Mia Patria di KBRI sore harinya. Walaupun keletihan merasuk raga setiap anggota, senyum dan keramahan khas Indonesia menjadi andalan kami dalam pementasan "The Culture of Harmony". 

Penampilan Bhineka Perdana di KBRI
Rangkaian acara dibuka oleh Duta Besar Indonesia untuk Vatikan, Bapak Budiarman Bahar, langsung dilanjutkan penampilan lagu dan koreografi Sigulempong, Keroncong Kemayoran, Medley Kalimantan, Medley Pasundan, Sio Mama, dan Medley Floresiana. Waktu istirahat yang tidak banyak, hanya sekitar tujuh menit, diisi oleh kata pengantar Bapak Linus Putut Pudyantoro, sementara kami merakit sebuah kapal pecah di belakang panggung (baca: ganti baju express).

Paruh dua diisi oleh tari-tarian. Dimulai dengan Tat Wam Asih Bali, Rantak Padang, Saman Aceh, dan Diru Nina Papua. Penampilan Mia Patria ditutup oleh pertunjukan angklung Radetzky March.

Secara keseluruhan penampilan perdana kami di Eropa ini tidaklah buruk. Ada beberapa komentar yang menyatakan penampilan kali ini lebih variatif daripada tur 2010. Bapak Dubes juga merasa puas dengan apa yang sudah dipersembahkan atas nama Indoneia untuk dunia ini. Beberapa audiens pun sempat minta diajari bermain angklung atau menari. Bapak Putut sendiri memberikan apresiasi untuk penampilan Tari Rantak yang memang sampai pada siangnya dianggap kurang matang. Semoga ini bisa menjadi motivasi bagi rantakers, dan juga setiap anggota untuk selalu mempersembahkan yang terbaik dalam setiap kesempatan walaupun kondisi fisik terkadang kurang prima.
Duta Budaya Indonesia di KBRI Vatikan

Mia Patria mungkin bukan sebuah komunitas seni professional. Namun kebersamaan dan niat tulus kami mengharumkan nama bangsa membawa kami pada kesuksesan hari itu. Baik di depan ribuan jemaat di Basilika St.Peter, maupun puluhan tamu KBRI yang berasal dari berbagai bangsa. (/nat)

Selasa, 01 Mei 2012

Keliling Kota Suci


Selasa, 1 Mei

Jam 8 pagi dengan menu nasi goreng hangat yang disediakan pihak KBRI kami mengisi perut. Nyam nyam nyam. Selain sarapan, aktifitas pagi itu juga diisi kegiatan konveksi, menjahit emblem pada jaket dan tas. Kegiatan ini tidak memandang gender, laki-laki pun turut melakukannya dengan suka cita.
Kamar Tidur pun Berubah jadi Konveksi
Setelah penuh dengan santapan jasmani, kami semua bergegas masuk ke bis yang  yang akan membawa kami ke Vatikan. Berangkat jam 9 WR (waktu Roma) dan setelah jalan 30 menit tahu-tahu berhenti. What happened? 
Safety First ;)

Ternyata bisnya mogok karena olinya abis. Sopir bis harus menghubungi pihak bengkel dan kami harus menunggu montir kasih mimik oli ke bis kayak dedek mimik susu. Satu jam menunggu dan kami pun on the way ke Vatikan. 

Selama di perjalanan mata dimanjakan pemandangan gedung-gedung tua terutama reruntuhan jaman kejayaan bangsa Romawi leluhur bangsa Italia. Mulai dari reruntuhan istana, pemandian, akuaduk, gerbang, dll. Hmm itu yang mesti ditiru bangsa Indonesia: menjaga dan melestarikan warisan nenek moyang sebelum diklaim bangsa lain. 

Obyek pertama adalah Koloseum (It. Coloseo). Bekas stadion untuk pertarungan hidup-mati para gladiator ini masih terlihat megah sekalipun sudah berusia lebih 2000 tahun. Kami segera berfoto-foto ria dan membuat foto bersama. Sudah asik foto rame-rame tiba-tiba Kak Wiwin baru memunculkan diri. Tampaknya dia habis sibuk menjawab panggilan alam. Kami pun mengulang kembali foto bersama.
 
Tiba waktunya makan siang. Kami dibawa oleh Claudio ke Burger King dekat kompleks Vatikan. Surprised! Claudio memesankan hamburger dengan porsi jumbo. Baru kali ini melihat anggota MP bersusah payah untuk menghabiskan makanan, bukan untuk memperoleh makanan. 

Dari Burger King berjalan di bawah rintik-rintik hujan menuju pintu gerbang Vatikan melewati deretan toko souvenir. Akhirnya sampailah kami ke pusat peziarahan umat Katholik selain Yerusalem. Barisan panjang manusia mengular di lapangan luas bernama Piazza di San Pietro. 
Menembus Hujan dan Dingin, Foto-foto pun Harus Tetap Berjalan
Lapangan ini diapit dua bangunan bertiang megah seolah-olah hendak merengkuh umat. Kami harus cepat-cepat membentuk barisan antrian sebelum keduluan rombongan lain. Sambil berjalan tak lupa kami berfoto-foto ria dengan latar belakang basilika Santo Petrus, bahkan sampai keluar barisan. Ini yang bikin tour guide turis-turis sepuh dari Cina di belakang gusar dan komplain ke Pak Putut sebagai pemimpin rombongan. Sirik ya Cik bawa simbah-simbah? Bawa balita aja lain kali weks. 

Akhirnya kami serombongan masuk ke 'rumah Tuhan' di Roma. Betapa besar jerih payah arsitek dan seniman mengorbankan jiwa dan raga untuk mewujudkan rumah Tuhan. Bukan, bukan kemegahan bangunan ini yang membuat takjub, tapi betapa manusia bersedia berkorban mempersembahkan yang terbaik yang bisa diberikan kepada Tuhan dalam wujud karya seni bercita rasa tinggi. 

Kami mendapat kesempatan berdoa di kapel-kapel yang tersedia di dalam basilika, termasuk Sanctissima yang kabarnya banyak doa terkabulkan jika dipanjatkan di sana. Jam 4 usailah sudah acara jalan-jalan. Karena bis mogok tadi, kunjungan ke Fontana di Trevi harus dibatalkan. Sayang sekali tapi semoga kami bisa kembali lagi di masa mendatang (amin amin). (/and)

Senin, 30 April 2012

Halo Eropa!

Minggu - Senin, 29 - 30 April

Beberapa orangtua anggota masih menunggu hingga keberangkatan dengan bus besar dari markas Mia Patria di Rawamangun. Kardus perlengkapan telah selesai dipacking oleh tim perlengkapan. Sesuai jadwal yang ditentukan, jam sembilan hampir seluruh anggota yang akan berangkat dalam misi budaya (30 orang) telah berkumpul. Tim perlengkapan (Budi, Anton, Malvin, Pice, dan rekan) terlihat masih menyelesaikan beberapa kotak alat dan telah memasukannya ke dalam truk besar, dengan dukungan dari salah satu anggotanya (Kelvin) bersama karyawan restoran Sari Bundo.

Doa Keberangkatan
Setelah berdoa bersama yang dipimpin oleh Dian, dalam kebersamaan, menyanyikan lagu “no pain no gain” dan “limpahkanlah” dengan bergandengan tangan bersama orangtua dan kakak, diiringi dentingan piano oleh Uchie, melambungkan rasa syukur dan pengharapan agar perjalanan misi budaya ini akan berlangsung dengan baik.


Kemudian kami bersiap untuk berangkat menuju bandara, diikuti satu truk berisi perlengkapan. Sekitar jam duabelas siang, kami tiba di bandara Soekarno Hatta, terminal 2D. Sementara menunggu dibukanya loket cek in Qatar airline jam dua siang, dengan pesawat Qatar airways QR673 pada 17.40 menuju Doha, kami juga diantar oleh beberapa anggota MP (Nana, Talia, Lanny, om Wakijo dan Patty) dan orangtua dari Malvin, Ika&Uchie, sambil menikmati konsumsi yang telah disediakan oleh mbak Ika dan mbak Dita.

Di dekat lokasi beberapa ATM di terminal 2D, beberapa anggota bergantian makan siang sambil bercengkrama, sementara didepan loket cek in Qatar, om Broto dan mas Andre bersiap-siap untuk mengurus tas bagasi dan kardus perlengkapan yang berisikan asesoris dan makanan khas Indonesia, serta perlengkapan musik yang akan digunakan selama perjalanan misi budaya berlangsung.

Kesibukan terjadi pada saat penimbangan kardus perlengkapan, setelah penghitungan tas bagasi yang berselimutkan kain orange selesai. Selain dari sisi berat masing-masing boks dengan kapasitas yang diijinkan 32 kg memerlukan pengurangan lagi dengan membongkar beberapa kotak yang berkapasitas berlebihan, yaitu dengan mengurangi stand partitur sebanyak 8 buah, busa tempat duduk dan stand gitar.

Setelah perlengkapan selesai, kami bersiap masuk keruangan boarding area dan berangkat sesuai jadwal.
Beberapa Kerabat Mengantar Kami dari Sari Bundo

Puji Tuhan kami tiba dengan selamat di Doha airport pada pukul 22.30 PM waktu setempat, dengan perbedaan waktu lima jam waktu Indonesia. Sekitar tiga jam kami menunggu, waktu itu kami gunakan untuk update status (tentang tanah asing pertama yang kami pijakkan pada perjalanan ini), sedikit belanja, sekedar duduk-duduk istirahat, dan berlatih lagu baru.

Kami bersiap berangkat lagi menuju Roma, QR81 pada jam 02.05. Kembali kami panjatkan syukur saat menjejakkan kaki di bandara Fiumicio, Roma. Rombongan dijemput oleh pak Boni dari Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk takhta suci Vatican, setelah kami melalui loket imigrasi. Terlihat box perlengkapan telah siap untuk dibawa, sementara beberapa koper masih menunggu untuk diambil dari bagasi pesawat.

Disambut Langsung Dubes RI untuk Vatikan
Udara dingin sejuk menghembus kulit Indonesia kami, saat pertama kalinya keluar dari pintu bandara, menuju bis yang telah disiapkan oleh KBRI. Sambutan hangat kami terima dari tim KBRI yang dipimpin oleh Bapak Budiharman. Anggota baru kemudian diperkenalkan pada Ibu Lusi, Ibu May, Bapak Iman, Claudio, Marco, dll. Rumah pertama kami di KBRI membuat kami masih seperti di Indonesia.

Udara sejuk layak Puncak terbalut keramahan saudara-saudari sebangsa di tanah orang merupakan cara yahud untuk beradaptasi. Halo Eropa! Tak sabar kami menorehkan kisah hidup kami di sini. (/anb)

Jumat, 20 April 2012

Misa Inkulturasi Terakhir (sebelum Eropa)

Rindu mengikuti misa inkulturasi? Belum sempat bertatap muka dengan Mia Patria?


Kami akan melayani misa budaya terakhir sebelum keberangkatan tanggal 29 April nanti di Paroki St. Ignatius (Jalan Malang 22, Jakarta Pusat) pekan ini.

Jadwal misa sebagai berikut:
Sabtu, 21 April 2012 pukul 17.30
Minggu, 22 April 2012 pukul 06.30, 08.30, 17.30, 20.00*
*misa silentium, tidak ada lagu tetapi kami tetap akan menyanyi seusai misa

Sampai jumpa!

Minggu, 01 April 2012

Menyemai Di Berbagai Gereja


Kalau kita mau memberi meskipun di saat kita sedang membutuhkan, percayalah niat baik dan usaha kita akan dibalas berkat melimpah oleh Tuhan. Begitulah kurang lebih kalimat yang sering ditekankan oleh Bapak Pimpinan (seperti sidang paripurna DPR saja!) mengenai aktifitas Mia Patria baru-baru ini: berjualan CD "Setia Menyemai" untuk membantu pendidikan calon pastur di Seminari Mertoyudan.

Setiap misi penjualan CD, sekitar tiga puluh-an anggota Mia Patria dibagi ke dalam dua sampai tiga kelompok yang serentak bergerak di paroki-paroki. Walaupun peluh bercucuran, mulut berbusa, dan kaki berpegal ria, aksi ini diharapkan bisa semakin merekatkan semangat persaudaraan tim Eropa 2012. Bagaimanapun juga kesatuan hati lebih penting dari kegalauan hati. Eeee... #nomention; kesatuan hati jauh lebih penting daripada kelelahan body!

Berikut aksi penggalangan dana untuk Seminari Mertoyudan:

Sabtu-Minggu, 17-18 Maret 2012
Gereja St. Kristoforus, Paroki Grogol
Stasi St. Polycarpus
Gereja Keluarga Kudus, Paroki Rawamangun
Ketua Tim Kristoforus (Kak Sinta) Menjajakan CD
Anak buah pun senantiasa mengikuti
Pose!
Tim Rawamangun: Makan Dulu!

Sabtu-Minggu, 24-25 Maret 2012
Gereja St. Matias Rasul, Paroki Kosambi Baru
Gereja Bunda Hati Kudus, Paroki Kemakmuran
Gereja St. Aloysius Gonzaga, Paroki Cijantung
Tim Matias Rasul Beres-beres
Tim Matias Rasul bersama Romo Susilo
Tim Matias Rasul di bawah Patung Matias Rasul
Geng Cijantung

Sabtu-Minggu*, 31 Maret - 1 April 2012
Gereja Kristus Salvator, Paroki Slipi
Gereja St. Bonaventura, Paroki Pulomas
*Minggu Palma
Tim Salvator Hari Pertama
Tim Salvator Hari Kedua
Add caption
Add caption

Jumat, 23 Maret 2012

Wir lernen Deutch


Mein Name ist Rotua Elisabeth. Ich bin deutscher Lehrer. Ich lehre Mia Patria Chor.
Ayo koreksi dan translate yang ini!

Untuk membekali tim Eropa 2012 yang akan berkunjung ke negara-negara berbahasa Jerman, kelas Bahasa Jerman pun diadakan di basecamp Sari Bundo. Ada ibu guru yang manis mengajar, dipastikan kaum-kaum Adam (khusunya yang jomblau) merapat ke papan tulis :P (/nat)





Minggu, 11 Maret 2012

Bersarang di Pulo Gebang

10 - 11 Maret

Pulo Gebang? Di mana tuh....?

Sebagian besar anak-anak Mia Patria yang lugu-lugu ini pasti tidak bisa kembali sendiri ke sana, secara lokasinya yang teramat jauh di ujung timur kota Jakarta. Oleh karena itu pula, kami semua tanpa terkecuali lebih baik dan sebaiknya "bersarang" di sana untuk melayani keempat misa Paroki Santo Gabriel, Pulo Gebang, pada 10 dan 11 Maret 2012.

Tarian Pembukaan
courtesy by Mega
Sarang kami kali ini adalah sebuah rumah milik gereja, namun berjarak cukup jauh dari gedung gereja, khususnya bagi mereka yang harus mengenakan jarit, karena langkahnya harus irit-irit. Jalan terdekat menuju gereja ditutup portal, sehingga nona-nona yang sudah berdandan dan mengenakan busana daerahnya di rumah harus berjuang dulu sebelum menginjakkan kaki di rumah Tuhan. Namun secara keseluruhan, rumah ini cukup nyaman kok, walaupun tetap saja pasti ada oknum-oknum jelmaan kelelawar yang insomnia sepanjang malam.

Kali ini Mia Patria juga harus rela berbagi jatah kamar dengan dayang-dayang Kak Sinta, putri-putri takaran kita, eh... hmm... Tarakanita. Terima kasih sebesar-besarnya untuk "anak-anak angkat" Kak Sinta yang setia sampai akhir membantu kami berjualan CD sehabis misa. Terima kasih juga kami sampaikan pada Wita dan Ompung yang sudah membantu mendokumentasikan penampilan kita.

Menyanyi di Balkon
courtesy by Mega
Satu misa Sabtu sore dan dua misa Minggu pagi dipimpin oleh Pater Jacob Tarigan, yang juga adalah dosen bagi sebagian dari kami yang berkuliah di Universitas Atmajaya. Walaupun dikenal sebagai seorang yang keras, menurut sumber yang terpercaya (Mas Putut pada evaluasi tugas) Pater Jacob sangatlah memperhatikan kami, sampai-sampai Kak Wiwin aka Ningsih dan Asti sempat di-bete-in ibu konsumsi karena di-bete-in juga oleh Pater Jacob. (Walaupun bete makanannya tetep uenak-uenak bangggeettt loh, bu!) Sebagai tanda terima kasih kami, lagu Sigulempong kami daraskan pada acara penutupan di pastoran untuk Pastur kepala paroki tersebut.

Masih dalam masa prapaskah, Mas Putut pun menggubah beberapa aransemen lagu untuk disesuaikan dengan situasi pertobatan (baca: tidak meriah-meriah amat). Yang paling jelas terlihat adalah lagu "Sesaji Insani" khas Bali, dibuat lebih mengalir tanpa embel-embel "cak cak cak..." atau "wing...wing...wing..." atau "eo wa eo.." Saking mengalirnya, sempat juga pitch lagu ini mengalir turun pada misa-misa pagi hari. Namun semoga saja ketidaksempurnaan ini tertutupi oleh tarian persembahan yang juga ditarikan lebih sederhana saat itu. Lagu-lagu lain yang dinyanyikan: Sembah Bekti, Ordinarium Melayu, Pimpinlah Langkahku, Ekaristi, dan Syukur Kami.

Wajah Kami
courtesy by Mega

Namun memang anak-anak Mia Patria itu lucu dan menggemaskan, tetap saja kemeriahan misa budaya tidak dapat terelakan. Sehabis misa kedua minggu pagi dan misa minggu malam, kami pun tampil di halaman gereja membawakan beberapa lagu daerah.


Terlihat jelas bahwa sebagian besar dari kami masih mengalami kesulitan besar bertahan membuka mata pada saat misa, entah karena belum pandai mengatur waktu istirahat atau situasi gedung gereja yang sangat memungkinkan. Pada misa di Pulo Gebanglah kami juga tahu bahwa Mega kini punya teman yang jago mengigau. Saking tingginya ilmu, ia mampu menyanyikan lagu Bapa Kami dan Pimpinlah Langkahku dalam keadaan tidur (untuk menjaga privasi, nama oknum off the record yaa)

Kesempatan ini juga menjadi ajang perkenalan anggota baru tapi lama yaitu kakak beradik Mas Arif dan Angga pada anggota tim Eropa 2012 yang baru. Cerita-cerita lucu pun terbocorkan Minggu siang itu mengenai kenangan perjalanan tahun 2010.

Ke-solid-an tim 2012 ini pun berlanjut selepas tugas. Tidak hanya dengan rajin berfoto, tetapi juga dengan kekompakan menunjukkan wajah aslinya seperti pada foto ini:
Karya Temannya Ka'Win

Kamis, 16 Februari 2012

Mia Patria nge-rock!

Mia Patria dalam Launching Album I Slank U

16 Febuari
Mia Patria nyanyi lagu daerah, sudah biasa. Kalau Mia Patria nge-rock, ini baru menunjukkan fleksibilitas grup koor gereja yang ngandang di Restoran Sari Bundo Jalan Pemuda Rawamangun.

Kesempatan itu datang pada pertengahan Febuari ini. Melalui koneksi saudara kami yang mantan artis KFC, Yose. "Hitung-hitung, refreshing lah dari jadwal latihan yang padat," ujar Yose di sela-sela latihan satu hari sebelum tampil mengisi acara launching album terbaru Slank, berjudul "I Slank U"

Mia Patria kebagian jatah membuka pertunjukan musik malam itu dengan menyanyikan lagu "Intro Indonesia" yang diambil dari album legenda rock tersebut, "Virus" tahun 2001. Lagu yang baru dilatih satu malam sebelumnya, dan kembali sedikit diubah komandan Pa Putut hanya beberapa jam sebelum pentas, dibawakan dari bawah panggung. Dikira hanya bagian dari kerumunan, terdengar pula lantunan dari mulut penonton. Satu bait selesai, masuklah penyanyi cilik Chantiq membawakan kembali lagu ini sambil anak-anak Mia Patria bergegas naik panggung. Lagu ini diulang ketiga kalinya, kolaborasi Chantiq dan Mia Patria.

Tuntas sudah secuplik penampilan malam itu. Namun, keriuhan malam barulah akan dimulai. Ketika lagu "Foto dalam Dompetmu" mulai dimainkan Slank, bukan hanya lady rocker Wiwin yang antusias, kumpulan penyanyi lagu daerah ini pun mulai bersorak, bergoyang, dan turut bernyanyi sampai sepuluh lagu yang dipersembahkan Slank malam itu selesai.

Malam makin larut, perut pun keroncongan bagi sebagian penyanyi berseragam hitam malam itu. Mereka yang datang lebih awal beruntung mendapatkan sekotak nasi ayam goreng dari sponsor utama KFC. Yang datang agak mepet hanya bisa gigit jari memendam kesedihan :P Mungkin di kesempatan berikut, seksi konsumsi bisa mempertimbangkan ini dalam menu, atau sekalian saja yah diminta jadi sponsor berdampingan dengan tukang donat sohibnya Bobby? (/nat)

Indonesiaaaaa....
bersama si Chantiq
Santai dulu di Kartika Chandra Lounge
Photo Session sebelum manggung

Rock On!!!!!
Kebagian juga foto bareng idola

Jumat, 27 Januari 2012

Practice makes perfect, the show must go on, hajar bleeeh!!!

Suasana Check Sound Lagu Sigulepong
27 Januari

Makin berkibar aja nih Mia Patria di bulan Januari. Setelah unjuk suara dan gerak di Bekasi, kali ini pasukan MPC diundang Bapak Richard selaku direktur Penerbit Penebar Swadaya mengisi acara perayaan ultah ke-30 penerbit tersebut di Hotel Acacia Salemba pukul 19.30-22.00. 

Siang hari sekitar pukul 15.00 sebelum acara mulai, anggota MPC, terutama yang gadis-gadis, berkumpul dulu di base camp Sari Bundo Rawamangun untuk berdandan. (yang angkut-angkut alat musik tidak ikutan dandan lho-red). Penampilan sudah oke (para gadis) dan alat sudah rapih masuk truk, semuanya latihan sebentar lagu Satu Nusa Satu Bangsa. Pukul 16.30 berangkatlah pasukan MPC membelah kemacetan Jalan Pemuda menuju Jalan Kramat tempat Hotel Acacia berada. 

Dandan part two atau Makan part two? Hihihi...
Setting alat musik dan dandan part two segera dilakukan di kamar yang disediakan penyelenggara. Check sound dilakukan setelah penataan alat musik beres dengan menyanyikan Sigulempong dan Medley Floresiana tanpa koreografi.

Pukul 19.30 tiba, show time ladies and gentlemen! Dengan gagah anggota MPC menuju ke panggung memulai keriaan malam itu dengan menyanyikan Satu Nusa Satu Bangsa (ini syahdu, bukan ria ya harusnya?-red). Ada miskomunikasi di sini. Seharusnya pertama kali dinyanyikan unisono baru pengulangan empat suara. Saking semangatnya, langsung saja lagu dihantam empat suara. 

Next, Medley Sunda tapi …… ups! Ke mana Malvin si akang pelantun lagu Sunda? Pemirsa, ternyata Malvin menjadi korban kehebohan demo buruh yang memblokir Tol Cikampek sehingga dia mesti zig-zag mencari jalan alternatif untuk mencapai hotel. Sekalipun terlambat, salut buat Malvin yang telah bersusah payah menerjang segala hambatan dan rintangan.

Ricky Yang Gagah Perkasa Teler Juga
Akhirnya solo intro Medley Sunda diambil alih Ricky yang walaupun sedang masuk angin berusaha mencapai nada tinggi tenor. By the way busway, abis penampilan sesi satu Ricky langsung minta dipijat Om Wakijo bahkan sampai muntah-muntah. Untung cuma intro ya Rick, coba kalau solo Diru Nina. Bisa minta pernapasan buatan tuh…. Nah ini tugasnya Mbak Prima, ya.

Kembali ke penampilan MPC malam itu. Setelah Medley Sunda penampilan selanjutnya Sigulepong. Malvin yang baru datang dengan sukses menyelinap ke barisan, tanpa disertai kepulan asap, dan berikutnya Medley Floresiana yang dipimpin Om John dan Jenny. Ketiga lagu di sesi pertama dieksekusi dengan anggun dan indah sehingga mengundang tepuk tangan penonton. 

Setelah sesi satu acara diselingi penampilan bintang tamu lain dan awak MPC bisa istirahat mempersiapkan diri untuk gong penampilan mereka: Diru Nina.

Om John dan Kedua Selirnya
Pukul 21.30 teng anggota MPC bersiap masuk panggung dengan formasi Diru Nina. Solis dibawakan oleh orang Flores dan Batak namun cucok sekali dalam kostum papua dan ikat kepala cendrawasihnya, Asten dan Rachel. Maaf teman-teman, sepertinya Diru Nina yang diharapkan sebagai gong pemuncak tidak dilantunkan dengan sempurna. Masih ada beberapa kedodoran di sana sini. Ada sela waktu sebelum teman-teman sadar bait yang mesti dinyanyikan. 


Kedodoran rupanya merambah sampai lagu Congratulations yang memang baru dipelajari H-1. Bukan hanya penyanyinya, si pembawa acarapun error kembali mempersilahkan MPC menyayikan lagu yang baru saja dinyanyikan ini. Sempat bingung sih, tapi apalah daya kata-kata tidak bisa ditarik. Pengulangan lagu ini dibawakan lebih santai dengan tepuk tangan, lalu turun panggung untuk bersalaman dengan penonton. 

Penampilan malam ini memang tidak sempurna, tapi tak apalah, orang pintar yang suka minum obat masuk angin bilang, practice makes perfect, the show must go on, hajar bleeeh!!! Penampilan-penampilan berikutnya harus lebih baik! (/and, nat)

Parade Foto Lainnya:









Kemana Cowok Madura-nya?