Minggu, 01 April 2012

Menyemai Di Berbagai Gereja


Kalau kita mau memberi meskipun di saat kita sedang membutuhkan, percayalah niat baik dan usaha kita akan dibalas berkat melimpah oleh Tuhan. Begitulah kurang lebih kalimat yang sering ditekankan oleh Bapak Pimpinan (seperti sidang paripurna DPR saja!) mengenai aktifitas Mia Patria baru-baru ini: berjualan CD "Setia Menyemai" untuk membantu pendidikan calon pastur di Seminari Mertoyudan.

Setiap misi penjualan CD, sekitar tiga puluh-an anggota Mia Patria dibagi ke dalam dua sampai tiga kelompok yang serentak bergerak di paroki-paroki. Walaupun peluh bercucuran, mulut berbusa, dan kaki berpegal ria, aksi ini diharapkan bisa semakin merekatkan semangat persaudaraan tim Eropa 2012. Bagaimanapun juga kesatuan hati lebih penting dari kegalauan hati. Eeee... #nomention; kesatuan hati jauh lebih penting daripada kelelahan body!

Berikut aksi penggalangan dana untuk Seminari Mertoyudan:

Sabtu-Minggu, 17-18 Maret 2012
Gereja St. Kristoforus, Paroki Grogol
Stasi St. Polycarpus
Gereja Keluarga Kudus, Paroki Rawamangun
Ketua Tim Kristoforus (Kak Sinta) Menjajakan CD
Anak buah pun senantiasa mengikuti
Pose!
Tim Rawamangun: Makan Dulu!

Sabtu-Minggu, 24-25 Maret 2012
Gereja St. Matias Rasul, Paroki Kosambi Baru
Gereja Bunda Hati Kudus, Paroki Kemakmuran
Gereja St. Aloysius Gonzaga, Paroki Cijantung
Tim Matias Rasul Beres-beres
Tim Matias Rasul bersama Romo Susilo
Tim Matias Rasul di bawah Patung Matias Rasul
Geng Cijantung

Sabtu-Minggu*, 31 Maret - 1 April 2012
Gereja Kristus Salvator, Paroki Slipi
Gereja St. Bonaventura, Paroki Pulomas
*Minggu Palma
Tim Salvator Hari Pertama
Tim Salvator Hari Kedua
Add caption
Add caption

Jumat, 23 Maret 2012

Wir lernen Deutch


Mein Name ist Rotua Elisabeth. Ich bin deutscher Lehrer. Ich lehre Mia Patria Chor.
Ayo koreksi dan translate yang ini!

Untuk membekali tim Eropa 2012 yang akan berkunjung ke negara-negara berbahasa Jerman, kelas Bahasa Jerman pun diadakan di basecamp Sari Bundo. Ada ibu guru yang manis mengajar, dipastikan kaum-kaum Adam (khusunya yang jomblau) merapat ke papan tulis :P (/nat)





Minggu, 11 Maret 2012

Bersarang di Pulo Gebang

10 - 11 Maret

Pulo Gebang? Di mana tuh....?

Sebagian besar anak-anak Mia Patria yang lugu-lugu ini pasti tidak bisa kembali sendiri ke sana, secara lokasinya yang teramat jauh di ujung timur kota Jakarta. Oleh karena itu pula, kami semua tanpa terkecuali lebih baik dan sebaiknya "bersarang" di sana untuk melayani keempat misa Paroki Santo Gabriel, Pulo Gebang, pada 10 dan 11 Maret 2012.

Tarian Pembukaan
courtesy by Mega
Sarang kami kali ini adalah sebuah rumah milik gereja, namun berjarak cukup jauh dari gedung gereja, khususnya bagi mereka yang harus mengenakan jarit, karena langkahnya harus irit-irit. Jalan terdekat menuju gereja ditutup portal, sehingga nona-nona yang sudah berdandan dan mengenakan busana daerahnya di rumah harus berjuang dulu sebelum menginjakkan kaki di rumah Tuhan. Namun secara keseluruhan, rumah ini cukup nyaman kok, walaupun tetap saja pasti ada oknum-oknum jelmaan kelelawar yang insomnia sepanjang malam.

Kali ini Mia Patria juga harus rela berbagi jatah kamar dengan dayang-dayang Kak Sinta, putri-putri takaran kita, eh... hmm... Tarakanita. Terima kasih sebesar-besarnya untuk "anak-anak angkat" Kak Sinta yang setia sampai akhir membantu kami berjualan CD sehabis misa. Terima kasih juga kami sampaikan pada Wita dan Ompung yang sudah membantu mendokumentasikan penampilan kita.

Menyanyi di Balkon
courtesy by Mega
Satu misa Sabtu sore dan dua misa Minggu pagi dipimpin oleh Pater Jacob Tarigan, yang juga adalah dosen bagi sebagian dari kami yang berkuliah di Universitas Atmajaya. Walaupun dikenal sebagai seorang yang keras, menurut sumber yang terpercaya (Mas Putut pada evaluasi tugas) Pater Jacob sangatlah memperhatikan kami, sampai-sampai Kak Wiwin aka Ningsih dan Asti sempat di-bete-in ibu konsumsi karena di-bete-in juga oleh Pater Jacob. (Walaupun bete makanannya tetep uenak-uenak bangggeettt loh, bu!) Sebagai tanda terima kasih kami, lagu Sigulempong kami daraskan pada acara penutupan di pastoran untuk Pastur kepala paroki tersebut.

Masih dalam masa prapaskah, Mas Putut pun menggubah beberapa aransemen lagu untuk disesuaikan dengan situasi pertobatan (baca: tidak meriah-meriah amat). Yang paling jelas terlihat adalah lagu "Sesaji Insani" khas Bali, dibuat lebih mengalir tanpa embel-embel "cak cak cak..." atau "wing...wing...wing..." atau "eo wa eo.." Saking mengalirnya, sempat juga pitch lagu ini mengalir turun pada misa-misa pagi hari. Namun semoga saja ketidaksempurnaan ini tertutupi oleh tarian persembahan yang juga ditarikan lebih sederhana saat itu. Lagu-lagu lain yang dinyanyikan: Sembah Bekti, Ordinarium Melayu, Pimpinlah Langkahku, Ekaristi, dan Syukur Kami.

Wajah Kami
courtesy by Mega

Namun memang anak-anak Mia Patria itu lucu dan menggemaskan, tetap saja kemeriahan misa budaya tidak dapat terelakan. Sehabis misa kedua minggu pagi dan misa minggu malam, kami pun tampil di halaman gereja membawakan beberapa lagu daerah.


Terlihat jelas bahwa sebagian besar dari kami masih mengalami kesulitan besar bertahan membuka mata pada saat misa, entah karena belum pandai mengatur waktu istirahat atau situasi gedung gereja yang sangat memungkinkan. Pada misa di Pulo Gebanglah kami juga tahu bahwa Mega kini punya teman yang jago mengigau. Saking tingginya ilmu, ia mampu menyanyikan lagu Bapa Kami dan Pimpinlah Langkahku dalam keadaan tidur (untuk menjaga privasi, nama oknum off the record yaa)

Kesempatan ini juga menjadi ajang perkenalan anggota baru tapi lama yaitu kakak beradik Mas Arif dan Angga pada anggota tim Eropa 2012 yang baru. Cerita-cerita lucu pun terbocorkan Minggu siang itu mengenai kenangan perjalanan tahun 2010.

Ke-solid-an tim 2012 ini pun berlanjut selepas tugas. Tidak hanya dengan rajin berfoto, tetapi juga dengan kekompakan menunjukkan wajah aslinya seperti pada foto ini:
Karya Temannya Ka'Win

Kamis, 16 Februari 2012

Mia Patria nge-rock!

Mia Patria dalam Launching Album I Slank U

16 Febuari
Mia Patria nyanyi lagu daerah, sudah biasa. Kalau Mia Patria nge-rock, ini baru menunjukkan fleksibilitas grup koor gereja yang ngandang di Restoran Sari Bundo Jalan Pemuda Rawamangun.

Kesempatan itu datang pada pertengahan Febuari ini. Melalui koneksi saudara kami yang mantan artis KFC, Yose. "Hitung-hitung, refreshing lah dari jadwal latihan yang padat," ujar Yose di sela-sela latihan satu hari sebelum tampil mengisi acara launching album terbaru Slank, berjudul "I Slank U"

Mia Patria kebagian jatah membuka pertunjukan musik malam itu dengan menyanyikan lagu "Intro Indonesia" yang diambil dari album legenda rock tersebut, "Virus" tahun 2001. Lagu yang baru dilatih satu malam sebelumnya, dan kembali sedikit diubah komandan Pa Putut hanya beberapa jam sebelum pentas, dibawakan dari bawah panggung. Dikira hanya bagian dari kerumunan, terdengar pula lantunan dari mulut penonton. Satu bait selesai, masuklah penyanyi cilik Chantiq membawakan kembali lagu ini sambil anak-anak Mia Patria bergegas naik panggung. Lagu ini diulang ketiga kalinya, kolaborasi Chantiq dan Mia Patria.

Tuntas sudah secuplik penampilan malam itu. Namun, keriuhan malam barulah akan dimulai. Ketika lagu "Foto dalam Dompetmu" mulai dimainkan Slank, bukan hanya lady rocker Wiwin yang antusias, kumpulan penyanyi lagu daerah ini pun mulai bersorak, bergoyang, dan turut bernyanyi sampai sepuluh lagu yang dipersembahkan Slank malam itu selesai.

Malam makin larut, perut pun keroncongan bagi sebagian penyanyi berseragam hitam malam itu. Mereka yang datang lebih awal beruntung mendapatkan sekotak nasi ayam goreng dari sponsor utama KFC. Yang datang agak mepet hanya bisa gigit jari memendam kesedihan :P Mungkin di kesempatan berikut, seksi konsumsi bisa mempertimbangkan ini dalam menu, atau sekalian saja yah diminta jadi sponsor berdampingan dengan tukang donat sohibnya Bobby? (/nat)

Indonesiaaaaa....
bersama si Chantiq
Santai dulu di Kartika Chandra Lounge
Photo Session sebelum manggung

Rock On!!!!!
Kebagian juga foto bareng idola

Jumat, 27 Januari 2012

Practice makes perfect, the show must go on, hajar bleeeh!!!

Suasana Check Sound Lagu Sigulepong
27 Januari

Makin berkibar aja nih Mia Patria di bulan Januari. Setelah unjuk suara dan gerak di Bekasi, kali ini pasukan MPC diundang Bapak Richard selaku direktur Penerbit Penebar Swadaya mengisi acara perayaan ultah ke-30 penerbit tersebut di Hotel Acacia Salemba pukul 19.30-22.00. 

Siang hari sekitar pukul 15.00 sebelum acara mulai, anggota MPC, terutama yang gadis-gadis, berkumpul dulu di base camp Sari Bundo Rawamangun untuk berdandan. (yang angkut-angkut alat musik tidak ikutan dandan lho-red). Penampilan sudah oke (para gadis) dan alat sudah rapih masuk truk, semuanya latihan sebentar lagu Satu Nusa Satu Bangsa. Pukul 16.30 berangkatlah pasukan MPC membelah kemacetan Jalan Pemuda menuju Jalan Kramat tempat Hotel Acacia berada. 

Dandan part two atau Makan part two? Hihihi...
Setting alat musik dan dandan part two segera dilakukan di kamar yang disediakan penyelenggara. Check sound dilakukan setelah penataan alat musik beres dengan menyanyikan Sigulempong dan Medley Floresiana tanpa koreografi.

Pukul 19.30 tiba, show time ladies and gentlemen! Dengan gagah anggota MPC menuju ke panggung memulai keriaan malam itu dengan menyanyikan Satu Nusa Satu Bangsa (ini syahdu, bukan ria ya harusnya?-red). Ada miskomunikasi di sini. Seharusnya pertama kali dinyanyikan unisono baru pengulangan empat suara. Saking semangatnya, langsung saja lagu dihantam empat suara. 

Next, Medley Sunda tapi …… ups! Ke mana Malvin si akang pelantun lagu Sunda? Pemirsa, ternyata Malvin menjadi korban kehebohan demo buruh yang memblokir Tol Cikampek sehingga dia mesti zig-zag mencari jalan alternatif untuk mencapai hotel. Sekalipun terlambat, salut buat Malvin yang telah bersusah payah menerjang segala hambatan dan rintangan.

Ricky Yang Gagah Perkasa Teler Juga
Akhirnya solo intro Medley Sunda diambil alih Ricky yang walaupun sedang masuk angin berusaha mencapai nada tinggi tenor. By the way busway, abis penampilan sesi satu Ricky langsung minta dipijat Om Wakijo bahkan sampai muntah-muntah. Untung cuma intro ya Rick, coba kalau solo Diru Nina. Bisa minta pernapasan buatan tuh…. Nah ini tugasnya Mbak Prima, ya.

Kembali ke penampilan MPC malam itu. Setelah Medley Sunda penampilan selanjutnya Sigulepong. Malvin yang baru datang dengan sukses menyelinap ke barisan, tanpa disertai kepulan asap, dan berikutnya Medley Floresiana yang dipimpin Om John dan Jenny. Ketiga lagu di sesi pertama dieksekusi dengan anggun dan indah sehingga mengundang tepuk tangan penonton. 

Setelah sesi satu acara diselingi penampilan bintang tamu lain dan awak MPC bisa istirahat mempersiapkan diri untuk gong penampilan mereka: Diru Nina.

Om John dan Kedua Selirnya
Pukul 21.30 teng anggota MPC bersiap masuk panggung dengan formasi Diru Nina. Solis dibawakan oleh orang Flores dan Batak namun cucok sekali dalam kostum papua dan ikat kepala cendrawasihnya, Asten dan Rachel. Maaf teman-teman, sepertinya Diru Nina yang diharapkan sebagai gong pemuncak tidak dilantunkan dengan sempurna. Masih ada beberapa kedodoran di sana sini. Ada sela waktu sebelum teman-teman sadar bait yang mesti dinyanyikan. 


Kedodoran rupanya merambah sampai lagu Congratulations yang memang baru dipelajari H-1. Bukan hanya penyanyinya, si pembawa acarapun error kembali mempersilahkan MPC menyayikan lagu yang baru saja dinyanyikan ini. Sempat bingung sih, tapi apalah daya kata-kata tidak bisa ditarik. Pengulangan lagu ini dibawakan lebih santai dengan tepuk tangan, lalu turun panggung untuk bersalaman dengan penonton. 

Penampilan malam ini memang tidak sempurna, tapi tak apalah, orang pintar yang suka minum obat masuk angin bilang, practice makes perfect, the show must go on, hajar bleeeh!!! Penampilan-penampilan berikutnya harus lebih baik! (/and, nat)

Parade Foto Lainnya:









Kemana Cowok Madura-nya? 


Senin, 23 Januari 2012

REQUIEM ÆTERNAM, DONA EIS DOMINE

Senin, 23 Januari

“Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan kuberikan untuk hidup dunia”
(Yoh, 6:51) 

Telah berpulang ke pangkuan Bapa di surga pada Senin, 23 Januari 2012 pukul 19.15 di Rumah Sakit Puri Cinere Ibu Maria Fortunata Apsari Budi Setiorini, akrab dipanggil Ririen, istri tercinta Bapak Linus Putut Pudyantoro, pimpinan Mia Patria, juga ibunda terkasih bagi Dinus dan Stanis. 

Diadakan Misa Arwah pada malam harinya pukul 23.50 - 1.30 dini hari yang dihadiri oleh anggota keluarga, handai taulan, anggota Mia Patria Choir, dan tetangga lingkungan sekitar. 

Misa Requiem diadakan pada hari Selasa pukul 11.00 di Gereja Aloysius Gonzaga, Cijantung, dengan konselebran utama Bapak Uskup Ignasius Suharyo. 

Ibu Ririn telah meninggalkan kenangan tersendiri di hati umat sehingga gereja yang berkapasitas kurang lebih 800 orang tidak mampu mengakomodir umat yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Lahan parkir yang terbatas tidak menghalangi umat walau mereka harus memarkir mobil agak jauh dari gereja dan berjalan kaki sejauh 300 meter. 

Anggota Mia Patria tidak lupa turut memberikan pernghormatan dengan menyumbangkan suara dan bakat musiknya dalam misa tersebut. Almarhumah dimakamkan di Pemakaman Pondok Rangon. Acara pemakaman segera dilaksanakan setelah misa usai.

Selamat jalan Ibu Ririn tercinta. Semoga di rumah Tuhan engkau turut bernyanyi bersama kami anak-anakmu. (/and)

Minggu, 22 Januari 2012

Terima Kasih Bekasi


Sabtu-Minggu, 21 - 22 Januari

Pengalaman malam pertama memang spesial dan tak terlupakan. Layaknya sepasang kekasih memadu cinta, malam itu tim Eropa 2012 memadukan berbagai macam karakter, kebiasaan, dan keunikan setiap pribadinya dalam suatu kebersamaan malam untuk pertama kalinya.
Makan Malam Bersama di Kursi Mungil

Terima kasih untuk teman-teman dari Bekasi, khususnya Bapak Wakijo, yang membantu menyediakan tempat kami bermalam di TK Strada. Walaupun hanya bermodalkan bantal kiriman dari basecamp MPC, kami bisa terlelap di dalam (dan luar) ruangan kelas yang beralaskan karpet itu. Meskipun ada pula yang memilih untuk berjaga malam, nonton bola di pos satpam, dan saling berbagi kisah gaib sampai pagi.

Pukul lima dini hari kami sudah berdandan cantik dan berkostum kinclong untuk pemanasan. Yap, misa pertama yang harus dilayani di gereja Santo Arnoldus Janssen minggu pagi itu mulai pukul enam. 

Misa dibuka dengan nuansa Kalimantan lewat lagu "Lihatlah Kemah Allah" yang menampilkan pula Sinta dan Sisi sebagai penari-penari dayak. Ordinarium tetap mengandalkan gaya Melayu, dan lagu antar bacaan serta Alleluya memasuki ranah Jawa (dengan waktu berlatih yang dapat dihitung kurang dari jari-jari dalam satu tangan). Lagu persembahan bertahan pada "Sesaji Insani" dengan Bias kembali (dan tampaknya permanen) didaulat sebagai penari utama, menyusul di belakangnya Rachel dan Talia dengan bakul persembahan masing-masing sayur dan buah-buahan.

Walaupun (katanya) menduduki posisi terbanyak keempat di Paroki Arnoldus, kami tetap membawakan pula lagu Mandarin "Cua Ting Wo Cheng Siou" untuk mengiringi komuni. Sementara itu sebagai lagu penutup, kami beralih ke daerah Batak lewat "Syukur Kami", menampilkan Ricky dan Mega sebagai penari penjemput pastur turun altar. Urut-urutan yang sama kami persembahkan kembali untuk misa selanjutnya pukul 08.30.

Seusai misa, kami bergegas menuju pos masing-masing untuk berjualan CD. Lewat tugas ini pula, dibentuk kelompok piket baru, Delta. Terima kasih pada umat Bekasi yang telah menyukseskan kegiatan penggalangan dana kami. Lebih dari 400 keping CD diminati umat, khususnya album Misa Budaya. 

Show Time!

Salut juga untuk teman-teman dari Bekasi yang rela berlelah-lelah bertugas menjual CD pada misa sore/malam Sabtu dan Minggunya. Terima kasih pula untuk Mama Dian yang sudah mengurusi perut kami. Juga kerabat-kerabat di Bekasi yang turut membantu perbekalan pagi hari. 

Lelah dan ngantuk tidak dapat disangkal. Namun bila semua dihadapi bersama dengan tawa, terbukti segala halang rintang tanggal terjungkal. (/nat)